Perjalanan Biji Kopi: Dari Pohon Hingga Segelas Kopi

Perjalanan Biji Kopi: Dari Pohon Hingga Segelas Kopi - Kopi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dewasa ini. Seperti yang kita tahu, minuman pahit nikmat ini berasal dari biji kopi. Anda mungkin sudah familiar dengan biji-biji kopi yang berderet di etalase kafe favorit. Walaupun nampak sama, biji kopi memiliki berbagai macam jenis, mulai dari spesies tanaman kopi, proses panen biji kopi, pembakaran, hingga menjadi biji kopi siap seduh. 

Perjalanan-Biji-Kopi-Dari-Pohon-Hingga-Segelas-Kopi

Selayang Pandang tentang Tanaman Kopi

Tanaman kopi tumbuh subur di wilayah subtropis benua Afrika dan Asia. Namun, saat ini tanaman kopi telah dibudidayakan di daerah Amerika Tengah dan Selatan. Pohon kopi cenderung pendek untuk mempertahankan energi, tapi dapat tumbuh hingga 9 meter. Buah kopi tumbuh di sepanjang rantingnya. Pohon kopi tumbuh mengikuti siklus yang berkesinambungan sehingga tidak jarang bunga, buah yang masih kehijauan dan buah matang terlihat muncul bersamaan dalam satu pohon. 

Baca Juga: Mengolah Biji Kopi Menjadi Bubuk Kopi

Buah kopi membutuhkan waktu sekiranya satu tahun untuk matang sejak berbunga pertama kali, dan 5 tahun untuk mencapai tahap produksi buah maksimal. Meskipun pohon kopi dapat hidup hingga 100 tahun, umumnya pohon kopi mencapai produksi tertinggi pada usia 7 hingga 20 tahun. Rerata produksi buah kopi dari satu pohon mencapai 4,5 kg atau hampir 1 kg biji kopi hijau per tahun.

Setelah buah pohon kopi dipanen, daging buah akan dibuang untuk diambil bijinya. Pada tahap ini biji kopi masih berwarna abu kehijauan dan disebut dengan biji kopi hijau. Biji kopi hijau memiliki masa simpan yang lebih lama dan cenderung lebih stabil. Biji kopi hijau kemudian dikirim untuk memasuki tahap pemrosesan selanjutnya. 

Jenis-Jenis Biji Kopi

Sebelum membahas proses selanjutnya, ada baiknya untuk mengenali berbagai jenis biji kopi terlebih dulu. Biji kopi memiliki ukuran, bentuk, warna dan rasa yang bervariasi. Hal ini bergantung pada daerah dan tanah tempat pohon kopi tumbuh. Variasi biji kopi berdasarkan faktor regional secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kategori: robusta dan arabika. 

Kopi Robusta

Kopi robusta cenderung mengandung asam yang lebih tinggi dan rasa yang lebih kuat dibanding arabika. Biji kopi jenis ini juga mengandung kadar kafein yang lebih tinggi. Pohon kopi robusta dapat tumbuh pada daerah dataran rendah, cuaca panas dan tingkat kelembapan udara rendah. Robusta relatif lebih mudah dirawat dan cenderung tidak banyak orang menikmati rasa pahitnya yang kuat. Karena itu, biasanya kopi robusta pun dijual dengan harga yang lebih murah dibanding jenis arabika. 

Kopi Arabika

Biji kopi arabika dinilai lebih tinggi di pasaran dibanding robusta karena tingkat keasaman yang lebih rendah dan variasi rasa lembutnya. Pohon kopi arabika tumbuh di daerah dataran tinggi, lebih sulit dirawat dan tentunya membutuhkan dana yang lebih tinggi untuk dipelihara. Faktor-faktor inilah yang membuat biji kopi arabika lebih banyak dicari dan dibanderol dengan harga yang lebih mahal di pasaran. 

Pembakaran Biji Kopi (Coffee Roast)

Sebelum dapat diseduh menjadi minuman kopi, biji kopi hijau perlu melalui tahap pembakaran atau roasting terlebih dulu. Tingkat pembakaran kopi pun bervariasi, mulai dari coklat keemasan hingga coklat kehitaman, bergantung pada durasi pembakaran. Variasi durasi pembakaran ini akan mempengaruhi rasa, aroma, dan warna seduhan kopi. Tingkat pembakaran biji kopi secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utama: terang (light roast), medium (medium roast), dan gelap (dark roast). 

Light Roast

Light roasts memungkinkan biji kopi memberikan karakteristik yang ringan, lembut, dan seringkali lebih asam. Tingkat pembakaran ini dapat mempertahankan rasa asli dari biji kopi. Umumnya light roast dilakukan untuk biji kopi dengan karakteristik yang unik agar rasa asli biji kopi dapat lebih menonjol ketika diseduh. 

Medium Roast

Biji kopi yang melalui proses medium roast akan menampakkan warna kecokelatan, kering dan kaya rasa. Tingkat keasamannya pun lebih rendah dibanding light roast dan mengeluarkan sedikit rasa manis. Biji kopi dengan tingkat pembakaran medium paling diminati karena keseimbangan rasa dan tingkat keasamannya. 

Dark Roast

Biji kopi dark roast melalui tahap pembakaran yang cukup lama hingga kandungan gula di dalamnya terkaramelisasi dan kandungan minyaknya keluar ke permukaan biji. Hasil akhir biji kopi dark roast menampilkan warna coklat kehitaman yang berkilau. Rasa yang dihasilkan dari biji kopi ini cenderung kuat, smoky, dan didominasi rasa pahit dengan kandungan asam yang rendah. 

Pembakaran Campuran (Blends)

Terkadang, produsen kopi melakukan pencampuran dari biji kopi dengan dua atau lebih tingkat pembakaran untuk meracik karakteristik rasa kopi yang kaya. Kopi ini disebut juga dengan blend roast. Pembakaran jenis ini akan menghasilkan rentang rasa yang kompleks yang tidak dapat dihasilkan dari satu jenis tingkat pembakaran. 

Kafein dan Dekafeinasi 

Ketika membicarakan kopi, kadar kafein sudah menjadi topik yang lazim. Namun, mungkin Anda belum familier dengan istilah dekafeinasi. Kadar kafein dalam segelas kopi bergantung pada jenis biji kopi yang digunakan dan teknik penyeduhannya. Ternyata, kadar kafein dalam segelas kopi telah jauh berkurang oleh proses yang disebut dengan dekafeinasi. Standar internasional dekafeinasi mensyaratkan kadar kafein dalam biji kopi untuk dibuang sebanyak 97% sebelum diseduh. 

Metode standar dekafeinasi secara garis besar adalah melakukan perendaman biji kopi di dalam air. Proses ini memungkinkan zat kafein dan kandungan lainnya keluar dari biji untuk kemudian terlarut dalam air. Air yang mengandung kafein dan zat-zat lainnya lalu disaring atau dicampur dengan zat tertentu untuk memisahkan kafein dengan zat lain pemberi rasa pada biji kopi yang ikut terlarut. Dengan demikian, hanya kafein saja yang terbuang dari biji kopi. Air yang kini hanya berisi senyawa-senyawa lain yang memberi karakteristik rasa pada biji kopi kemudian akan mengalami proses lanjutan agar terserap kembali ke dalam kopi. 

Teknik Penyimpanan Biji Kopi

Setelah melalui proses pembakaran dan dekafeinasi, biji kopi telah siap untuk digiling dan diseduh sesuai selera. Satu lagi hal yang tak kalah penting adalah penyimpanan biji kopi. Selain proses pengolahan biji kopi, teknik penyimpanan biji kopi yang baik pun memainkan peranan  penting untuk menjaga rasa dan kualitas biji kopi. Musuh utama biji kopi yang dapat mempengaruhi rasa adalah oksigen, panas, cahaya, dan kelembaban. Artinya, setelah bungkus kopi dibuka, perlu perhatian ekstra agar kenikmatan rasanya terjaga. 

Simpanlah biji atau bubuk kopi di dalam toples kedap udara dan letakan di tempat yang terhindar dari cahaya, kering dan sejuk. Disarankan untuk tidak menyimpan kopi di dalam kulkas atau freezer karena dapat memberi suasana lembab serta menonjolkan rasa pahit pada biji kopi seiring waktu. Kopi pun dapat bertahan lebih lama dengan kualitas terbaik jika disimpan dalam bentuk biji daripada biji kopi yang telah digiling.

Setelah bungkus kedap udara kopi terbuka, sebaiknya kopi dikonsumsi dalam jangka waktu dua minggu. Biji kopi yang telah melewati masa simpan ini telah berkurang kesegarannya. Otomatis, rasanya pun telah berubah akibat interaksi kopi dengan udara. Karena itu, simpanlah biji kopi sesuai kebutuhan yang kiranya dapat habis dalam jangka waktu dua minggu untuk pengalaman ngopi terbaik. Selamat ngopi!